Sejarah Perang Tondano Jilid I dan II

Perang Tondano adalah perang yang terjadi Kepulauan Sulawesi Utara tepatnya di Daerah Danau Tondano, sebab ini pula perang ini di namakan sebagai perang tondano.

Suku Minahasa adalah tokoh yang berperang dalam melawan penjajahan Kolonial Belanda, perang yang terjadi pada tahun 1808-1809 ini menjadi perang yang besar.

Berikut adalah penyebab, terjadinya perang, dan akhir dari perang tondano

Latar Belakang Terjadinya Perang Tondano

Salah satu yang menyebabkan terjadinya perang tondano adalah dicabutnya perjanjian verbound pada tanggal 10 Januari 1649.

Berlangsungnya Perang

Perang Tondano sendiri terjadi pada tahun 1808-1809 tempatnya pada permulaan abad XIX, perang pada permulaan abad XIX ini terjadi karena di latar belakang oleh implementasi politik pemerintahan kolonia Hindia-Belanda oleh para petinggi di Minahasa.

1. Perang Tondano Jilid I

Meskipun perang ini hanya terjadi satu tahun tapi peperangan di Danau Tonando dikenal dan terjadi secara dua tahap, perang Tornando Jilid I terjadi pada masa kekuasaan VOC, di mana saat kedatangan bangsa Barat dan orang-orang Spanyol ke tanah Tondano Sulawesi Utara.

Kedatangan orang-orang Spanyol bukan hanya berdagang tetapi juga enyebarkan ajaran agama Kristen, salah satu nama yang menyebarkan ajaran Kristen di Minahasa adalah Fransiscus Xaverius.

Perdagangan antara bangsa Spayol dengan orang pribumi terus berkembang dan semakin baik, namu pada abad XVII hubungan antara keduanya mulai terusik karena kedatangan para pedagang dari VOC.

Saat itu VOC sukses menummbuhkan pengaruhnya di Ternate, Gubernur Ternate Simon Cos juga mendapat kepercayaan dari Batavia agar membebaskan Minahasa dari pengaruh pedagang bangsa Spanyol.

Simon Cos lalu menaruh kapalnya di Selat Lembeh sebagai pengawasan di pantai timur Minahasa. Sedikit demi sedikit pedagang Spanyol yang tadinya bebas untuk berdagang mulai tersingkir, bahkan bukan hanya pedagang asal bangsa Spayol saja pedagang asli pribumi juga ikut terusir yaitu pedagang yang berasal dari Makassar.

Setelah itu, rencana VOC selanjutnya adalah bagaimana agar orang-orang Minahasa menjual beras dan hasil panen lainnya kepada VOC, karena VOC membutuhkan beras untuk dijadikan bahan monopoli di Sulawesi Utara.

Tapi orang-orang Minahasa sudah tau akan hal itu, makannya mereka menolak dan menentang bahwa beras yang mereka hasilkan tidak akan di jual di VOC, oleh karena itulah VOC memerangi orang-orang Minahasa dan inilah yang disebut sebagai perang Tondano jilid I.

2. Perang Tondano Jilid II

Perang Tondano jilid II sudah terjadi sebelum abad ke-19, tepatnya pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perang ini terjadi lantaran kebijakan Gubernur Jendral Daendels yang mendapatkan perintah dari atasan untuk memerangi Inggris yang ada di Indonesia.

Karena untuk memerangi Inggris membutuhkan pasukan yang tidak sedikit maka direklutlah pasukan dari pribumi Minahasa, mereka yang diseleksi adalah mereka yang mempunyai keberanian untuk berperang.

Beberapa suku yang menjadi target dan dirasa mempunyai kritria adalah oran-orang Madura, Dayak dan Minahasa, Atas perintah dari Daendels lewat Kapten Hartingh, Residen manado Prediger segera mengumpulkan para ukung (pemimpin dalam suatu wilayah distrik).

Di Minahasa ditarget dapat terkumpul calon pasukan dengan jumlah 2.000 orang yang nantinya akan dikirim ke Jawa. Tapi orang pribumi asal Minahasa banyak yang menolak dengan program Deandels untuk merelrut para pemuda Minahasa yang akan dijadikan pasukan.

Tidak sedikit para ukung mulai meninggalkan rumah mereka masing-masing dan para ukung ini merencanakan untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda, tondano dan Minawanua menjadi pusat tempat aktivitas perjuangan rakyat Minahasa.

Lonto adalah salah satu ukung dan menegaskan bahwa rakyat Minahasa harus melawan Kolonial Belanda sebagai bukti penolakan terhadap program pengiriman 2.000 pemuda Minahasa ke Pulau Jawa dan melanjutkan penolakan tentang penyerahan beras kepada Belanda.

Dengan suasana yang kritis ini, maka Gubernur Prediger mengambil keputusan untuk menyerang pertahanan orang-orang Minahasa di Tondano, Minawanua dengan cara mengirim pasukan siap tempur dan perang.

Kolonial Belanda melakukan strategi dengan cara membendung Sungai Temberan, Prediger juga membentuk dua pasukan yang tangguh. Satu pasukan menyerang dari Danau Tondano dan satu pasukan lagi meyerang lewat Minawanua via darat.

Pada tanggal 23 Oktober tahun 1808 terjadilah pertempuran, pasukan Belanda yang dikirim melalui jalur Danau Tondano sukses melakukan serangan dan mmerusak pagar bambu berduri yang menjadi batas antara per kampungan warga dan Danau Tondano.

Akhirnya pasukan bisa menerobos dan mengalahkan pertahanan orang-orang Minahasa di Minawanua. Meskipun malam berlalu para pejuang pribumi terus gencar dan tidak berhenti bertahan dan melakukan perlawanan.

Hingga pasukan Belanda merasa kewalahan oleh pasukan Minahasa, setelah pagi tiba yakni pada tanggal 24 Oktober 1808 para pasukan Belanda melalui darat membombardir kampung pertahanan Minawanua.

Belanda terus melakukan serangan dan akhirnya kampung pertahanan hancur lebur seperti tidak ada kehidupan lagi. Setelah puas dengan hasil ini pasukan Prediger mulai melonggarkan dan mengurangi serangannya.

Secara tiba-tiba pejuang Tondano muncul dan menyerang dengan hebat pasukan Belanda yang masih berada di daerah pertahanan. Pasukan Belanda pun dipaksa mundur, tapi Sungai Temberan yang dibendung mulai meluap dan membuat sulit pasukan Belanda sendiri.

Dari jarak jauh Belanda terus memborbadir kampung pertahanan Minawanua dengan terus menghujani meriam, tapi usaha yang dilakukan Belanda tidak begitu efektif. Hal ini membuat pejuang Tondano semakin bangkit dan bertambah semangat.

Bahkan ada berita yang mengatakan bahwa kapal terbesar yang dimiliki Belanda sudah tenggelam di danau Tondano, Minawanua. Perang Tondano jilid II berlangsung cukup lama, bahkan hingga bulan agustis 1809 peperangan ini belum juga berakhir.

Suasana ini membuat kepenatan dan kekurangan makanan, mulai dari adanya kelompok pejuang yang memihak kepada Belanda. Tapi dengan kekuatan dan semangat juang yang dimiliki oleh pejuang Tondano perlawanan terus berlangsung.

Pada tanggal 4-5 Agustus 1809 benteng pertahanan Moraya milik para pejuang Tondano hancur berbarengan dengan kehancuran rakyat yang terus berusaha mempertahankannya, para pejuang lebih memilih mati dari pada menyerah kepada Kolinial Belanda.

Meski begitu para pejuang banyak yang mati dan menjadi penyebab kekalahan rakyat Minahasa, tanah Minahasa juga telah kehilangan kemerdekaannya dan takluk kepada Hindia dan Belanda.

No comments:

Powered by Blogger.