Sebab Terjadinya Perang Jamal

Semenjak wafatnya khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu banyak terjadi cobaan dan fitnah yang melanda kaum muslimin.

Hal ini sesuai dengan apa yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya,

Jika pedang telah dijatuhkan atas kaum muslimin, pedang itu tidak akan diangkat hingga hari kiamat”. (HR. Abu Dawud no. 4252 dan Ibnu Majah no. 3952)

Saat itu sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dibai’at menjadi khalifah selanjutnya menggantikan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu atas kesepakatan para sahabat.

Diantara sahabat yang ikut berbai’at adalah Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin al-Awwam. Sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai wali Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menunda bai’atnya kepada sahabat Ali karramallahu wajhah sampai qishash atas pembunuh dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ditegakkan.

Sementara sahabat Ali karramallahu wajhah berbeda pandangan dengan Mu’awiyah. Ali radhiyallahu ‘anhu berijtihad bahwa kondisi saat itu tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya qishash.

Beberapa sahabat yang lain seperti Thalhah, Zubair dan Ummul Mukminin Aisyah juga menyampaikan kepada Ali radhiyallahu ‘anhu untuk menegakkan qishash atas pembunuh Ustman bin Affan radhiyallhu ‘anhu. Namun Ali radhiyallahu ‘anhu tetap berpegang pada ijtihadnya.

Aisyah bersama sahabat yang lain akhirnya berangkat menuju Bashrah menemui Ali radhiyallahu ‘anhu untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) diantara kedua kubu umat muslim yang sedang berbeda pendapat.

Kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh pihak khawarij untuk memulai fitnahnya. Pihak khawarij melakukan penyerangan kepada dua belah pihak sekaligus.

Ali bin Abi Thalib beranggapan beliau sedang diserang sehingga beliau memutuskan menyerang untuk membela diri. Begitupun dengan Ummul Mukminin Aisyah, beliau beranggapan sedang diserang dan harus membela diri.

Akhirnya terjadilah Perang Jamal yang sebenarnya tidak diinginkan terjadi. Hal ini juga sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW dari Abu Raafi,

Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib: ‘Bahwasanya antara kamu dan Aisyah nanti akan ada satu permasalahan.’ Ali bertanya: ‘Saya kah wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Ali kembali bertanya: ‘Apakah saya orang yang celaka ya Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak, akan tetapi jika hal itu nanti terjadi, maka kembalikanlah ia (Aisyah) ke tempatnya yang aman.” (Musnad Al-Imam Ahmad 2/393)

No comments:

Powered by Blogger.