Kasus Penistaan Agama Ahok Sampai ke Berita Mancanegara

Pernyataan calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menyinggung soal surat Al Maidah ayat 51, dinilai telah memenuhi unsur pidana penistaan agama seperti yang diatur dalam Pasal 156a KUHP. Bahkan, persoalan tersebut, tersiar hingga ke mancanegara.

"Kalau polisi objektif, menurut saya unsur pidananya terpenuhi. Karena yang harus dinilai adalah kata-kata yang diucapkan Ahok bukan alasan-alasannya mengucapkan kata-kata," kata pakar hukum pidana Universitas Muhammadiyah Jakarta Chairul Huda, saat dihubungi di Jakarta, Kamis (3/11/2016).

Adapun pada Pasal 156a berbunyi, Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan,

a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia

b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut Chairul, ada tiga poin dalam pasal 156a KUHP, yakni menyatakan permusuhan, penyalahgunaan, dan penodaan alternatif.

"Pernyataan Ahok mungkin tidak menyatakan permusuhan dan penyalahgunaan, tapi penodaan. Jadi polisi jangan terjebak," kata Chairul.

Dikatakan Chairul, sekarang ada dua hal yang harus menjadi perhatian polisi dalam mengusut kasus penistaan agama. Pertama, lihat apakah peristiwa yang dilaporkan itu benar terjadi atau tidak. Kedua, buktikan apakah benar ada penistaan agama atau tidak. "Sebab ini berkaitan dengan laporan-laporan berikutnya, termasuk yang Buni Yani," kata dia.

Polisi, kata dia, jangan berkutat pada persoalan latar belakang laporan. "Apakah si pelapor benci atau karena muatan politis itu sah-sah saja, orang bisa melaporkan. Ahok memang tidak berniat menghina atau menistakan agama tapi ada kata-kata yang memenuhi unsur pidana," katanya.

Pernyataan Ahok bahwa dia tidak berniat menghina, hanyalah alasan, dan tidak bisa dijadikan dasar polisi. "Sama saja orang mau mencuri kerbau tapi dia beralasan hanya memegang tali kerbau. Itu kan hanya alasan saja," kata Chairul.

Hingga Mancanegara

Tak hanya itu, yang mengejutkan jagad dunia maya adalah foto Ahok beredar hingga mancanegara dan menjadi pembicaraan. Khususnya, para netizens Indonesia.

Sejumlah pasukan mujahidin Suriah dari kelompok Jaisy Al Fath, mengirimkan pesan terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.

Dalam, foto lima pasukan bersenjata lengkap terlihat memegang tiga buah kertas yang berisikan pesan tuntutan penuntasan kasus Ahok. "Hukum Ahok atau peluruh kami yang menghukum," bunyi salah satu pesan mereka.

"Tangkap Ahok atau jihad nasional," lanjut pesan berikutnya.

Tak jelas kapan foto diambil. Foto diunggah pertama kali oleh akun Twitter salah satu media di Timur Tengah. Di situs jejaring sosial Twitter, foto ini menuai banyak komentar.

Menanggapi hal itu, Gubernur Ahok menanggapi dengan santai soal foto bertuliskan namanya yang tersebar di Suriah. Ahok malah berseloroh menganggap dirinya dikandidatkan dalam kepengurusan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). "Wah berarti kedepan saya calon Sekretaris Jendral PBB ya," kata Ahok di Gang Langgar, RT 13/RW08, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (3/11/2016).

Jajaran Polda Metro Jaya pun meningkatkan kewaspadaan setelah beredarnya foto kelompok Jaisy Al Fath itu. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono mengatakan pihaknya sudah mengidentifikasi kasus tersebut. Pihaknya bakal terus berjaga dengan kemungkinan yang terjadi.

Berdasarkan informasi intelijen yang diterima aparat kepolisian, foto itu diambil di Suriah. Pihak intelijen juga sudah memberikan laporan kepada aparat kepolisian. "Kami juga monitor itu terkait media sosial," ujar Awi, kemarin, Rabu, 2 November.

No comments:

Powered by Blogger.