Canda Rasulullah Kepada Seorang Wanita Tua

Hidup tanpa humor akan terasa sangat sunyi dan sepi karena tidak adanya senyum dan tawa. Mereka yang dapat menghibur orang lain merupakan salah satu amalan baik. Untuk itulah kita bisa mencontoh canda Rasulullah SAW. Kisah mengenai candaan Rasulullah kepada seorang wanita tua yang ditemuinya ini menunjukkan bahwa Rasul juga memiliki sense of humor.

Rasulullah adalah manusia mulia yang memiliki sikap dan perilaku yang terpuji. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang tegas, ayah dan suami yang penyayang dan hamba yang taat. Meskipun beliau dikenal dengan berbagai tauladannya, ternyata beliau juga memiliki rasa untuk bercanda. Beliau bisa menempatkan dimana saat yang tepat untuk bercanda dan kapan untuk serius. Beliau juga bercanda tanpa melukai hati seseorang sehingga tidak melampaui batas. Rasa humor inilah yang membuat beliau semakin disayangi oleh banyak orang.

Sudah seharusnya setiap orang memiliki sense of humor seperti Rasul ini. Dapat kita bayangkan jika di dunia ini tidak ada canda tawa maka akan seperti apa kehidupan ini, membosankan. Rasa humor dirasa perlu dimiliki oleh para ulama atau penyampai dakwah untuk menarik perhatian umat muslim agar mendengarkan apa yang kita sampaikan dengan seksama. Terkadang, sesuatu yang kita sampaikan dengan humor dapat lebih mudah dipahami.

Suatu hari ada seorang wanita tua menghampiri Rasulullah dan mengatakan bahwa agar Rasulullah mendoakannya supaya bisa masuk surga.

Rasulullah kemudian menjawab bahwa di surga tidak akan ada orang tua seperti wanita itu.

Mendengarnya, nenek itu pun menangis karena merasa jika ia tidak dapat masuk ke dalam surga ia pun menyesal akan hal itu. Melihat sang nenek menangis, Rasulullah justru tersenyum dan mengatakan bahwa orang tua seperti nenek itu memang tidak akan masuk surga karena di dalamnya semua orang yang tua akan diubah menjadi gadis-gadis perawan yang menawan.

Setelah itu, Rasulullah membacakan firman Allah yang artinya bahwa sesungguhnya Allah menciptakan bidadari-bidadari secara langsung dan menjadikan mereka gadis-gadis perawan.

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun baru mengerti atas canda Rasulullah. Ia mengatakan, jika ia beriman maka di akhirat kelak ia akan terlebih dahulu dijadikan gadis perawan sebelum masuk surga. Dan tertawalah sang nenek dengan gigi yang ompong.

Berdasarkan kisah humor Rasulullah di atas, menunjukkan bahwa meskipun Rasulullah seorang pemimpin yang tegas dalam berdakwah dan tangguh dalam berperang, beliau juga memiliki rasa canda yang dapat membuat orang-orang di sekitarnya tertawa. Selain ketaatan beliau kepada Allah, kita bisa mencontoh rasa humor Nabi tersebut. Jika kita bisa menghadirkan tawa pada orang lain maka mereka akan lebih senang terhadap kita. Membuat orang bahagia dan tersenyum dapat dikatakan sebagai amalan.

Meskipun demikian, kita perlu menggaris bawahi jika candaan kita tidak menyinggung hati orang lain. Dengan niat bercanda pun kita juga harus tahu batasannya, seperti tidak mengolok-olok. Jangan dengan alasan bercanda kita dapat mengejek atau mengatakan segala keburukan tentang orang lain karena bercanda tidak harus membuka keburukan orang lain. Untuk itu, waspadalah saat kita akan bercanda karena salah-salah tidak akan mendapat pahala tapi justru dosa karena telah menyakiti hati orang lain.

No comments:

Powered by Blogger.