Ketika Ahli Ibadah dan Orang Saleh Wafat

Setiap orang pastinya akan mengalami mati dan kembali pada Allah SWT. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita, baik itu harta, benda, jabatan atau keluarga. Hanya amal ibadah kita lah yang bisa mendampingi kita dan menyelamatkan kita dari adzab Allah di alam kubur.


Ahli ibadah dan ahli ilmu adalah permata bagi umat muslim. Dikatakan jika orang-orang sholeh atau ulama ini wafat maka akan dicabutkan keilmuan di zaman ini. Meskipun secara fisik ia telah ada di pembaringan dan terbujur kaku, tapi sorot matanya tetap masih ada melihat orang-orang di sekitarnya. Ia meminta tolong untuk didudukkan dan ingin mengatakan sesuatu Di sampingnya duduk semua keluarga, ayah, ibu, anak, istri dan kerabat lainnya yang menangisi kepergiannya.

Ia akan bertanya pada ayahnya, mengapa ayah menangis. Ayahnya pun menjawab bahwa ia tidak bisa membayangkan putranya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Ia akan merasakan kesepian tanpa kehadiran sang buah hati.

Setelah itu, ia pun bertanya pada ibunya dengan pertanyaan yang serupa. Ibunya menjawab betapa sedihnya jika ia berpisah dengan sang anak. Hatinya pedih. Inilah gambaran hati seorang ibu yang merasa kehilangan buah cintanya.

Kemudian, ia memberikan pertanyaan yang sama kepada sang istri meskipun dengan nada yang sangat lemah karena sudah mendekati ajal. Di dalam tangisnya, sang istri menjawab bahwa ia akan kehilangan kebaikan suaminya itu. Lalu dari mana ia akan mendapatkan orang yang baik sebagai ganti suaminya yang shaleh itu.

Pertanyaan yang terakhir ditujukan pada anak-anaknya yang sedang menangis. Ia bertanya mengapa anak-anak menangis. Mereka menjawab dengan lugu bahwa kehinaan akan mereka alami setelah ayahnya pergi dan mereka akan menjadi anak yatim. Kisah menakjubkan sang ahli ibadah ini dijelaskan dalam sebuah hadits.

Setelah mendengar semua jawaban dari keluarganya itu, mulai dari ayahnya, ibu, istri, dan anak-anaknya, ia pun terbujur di atas tempat tidur dan menagis dengan keras. Kesedihan yang menyelimuti hatinya. Keluarganya yang tadinya ditanya pun kembali bertanya mengapa ia menangis.

Kemudian ia pun menjelaskan bahwa ia sedih mengetahui jika keluarganya sedih bukan karena menangisi sang ahli sholeh yang akan meninggalkan mereka tapi justru menangisi dirinya sendiri. Tidak ada yang memikirkan betapa beratnya dan panjangnya perjalanan yang harus dialami, bekal yang masih sedikit karena ia harus ditimbun di dalam tanah. Tidak ada yang bisa menjamin dirinya tidak akan merasakan keburukan atas balasan kelakuannya selama ini.

Tidak ada yang memikirkan bagaimana keadaannya ketika harus menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan semua amal yang telah ia lakukan.

Keluarganya itu pun berpikir apabila orang shaleh itu ditangisi, maka pantaskah mereka mendapatkan tangis yang sama karena orang-orang kehilangan kebaikannya. Jangan-jangan banyak orang akan berbahagia dan justru tertawa karena kepergian mereka. Kisah ahli ibadah ini akan memberikan hikmah bagi umat muslim.

Sungguh, orang yang shaleh dan bermanfaat untuk orang lain maka akan membawa kesedihan bagi orang-orang di sekitar jika ia akan meninggal. Kebanggaan tersendiri ketika kita melihat kerabat meninggal dengan banyak orang yang bersedih dan merasa kehilangan. Hal ini menunjukkan bahwa semasa hidupnya ia telah berguna bagi banyak orang.
Powered by Blogger.