Bahagianya Jomblo di Zaman Khalifah

Pemimpin berbeda dengan raja. Seorang pemimpin bisa dikatakan sebagai pelayan yang mengurusi semua kebutuhan rakyatnya. Oleh karena itu, pemimpin yang adil kelak akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Pada zaman khalifah, pemimpin tidak hanya mengurusi masalah besar dalam hubungan negara ataupun antarnegara, dengan kemuliaannya maka ia juga mengurusi rakyatnya dalam hal percintaan.


Bahagianya jomblo di zaman khalifah meskipun banyak tugas dan tanggung jawab yang ia tanggung. Khalifah merupakan pemimpin umat muslim dan kita mengenal 4 khalifah setelah sepeninggalnya Nabi Muhammad SAW. Tidak mudah menjadi seorang khalifah dan tanggung jawabnya tidak hanya masalah negara tapi juga masalah percintaan rakyatnya.

Mungkin, bagi beberapa orang hal ini adalah masalah pribadi yang seharusnya tidak dicampuri oleh orang lain. Tapi, pada zaman dahulu, para khalifah sadar apabila seseorang merasakan cinta atau suka pada orang lain maka inilah yang bisa menimbulkan zina. Oleh karena itu, lebih baik jika dinikahkan agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan atau dosa besar.

Khalifah menaruh perhatiannya secara serius pada para jomblo yang sedang dimabuk cinta, dilanda asmara dan sedang berbunga-bunga hatinya. Perhatiannya ini dilaksanakan dengan perbuatan yang nyata dimana mereka yang merasakan hati berbunga-bunga akan segera dinikahkan karena inilah satu-satunya solusi terbaik agar tidak terjebak pada perbuatan zina. Inilah bahagianya menjadi jomblo di zaman Khalifah.

Suatu ketika Abu Bakar sedang berkeliling memperhatikan rakyatnya. Hal ini merupakan perhatian dan rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh pemimpin idaman. Tak heran jika tugas ini dilakukan oleh khalifah zaman terdahulu dimana keimanan masih terjaga dengan kuat.

Dalam perjalanan, beliau mendengarkan seorang wanita yang sedang bersyair. Ternyata, wanita itu sedang merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda. Syairnya yang disenandungkan menjelaskan bahwa ia adalah seorang wanita yang sedang mabuk cinta dan ia menangis karena mencinta pemuda bernama Muhammad bin Qasim.

Diketahui jika wanita itu ternyata seorang budak dan karena kebaikan hatinya, Abu Bakar membebaskannya dari perbudakan. Setelah itu, beliau mendatangi Muhammad bin Qasim agar ia mau menikahi gadis itu.

Hal ini juga pernah terjadi pada masa khalifah Utsman bin Affan. Saat itu, ada seorang pelayan yang mendatangi beliau dan mengadukan apa yang sedang dirasakannya. Ternyata ia sedang jatuh cinta pada keponakan tuannya hingga ia tidak dapat lagi membendung rasa cintanya itu.

Mendengar cerita sang wanita itu, Utsman pun merasa kasihan pada wanita yang sedang dimabuk cinta. Hal ini kemudian membuat Utsman mendatangi sang majikan. Beliau berkata bahwa sang majikan dapat memilih pelayan itu untuk diberikan kepada keponakan laki-lakinya atau beliau akan menebusnya dan menyerahkan pada keponakan si majikan itu. Inilah keberuntungan menjadi jomblo di jaman Khalifah Utsman.

Sang majikan itu pun berbaik hati menyerahkan hamba sahaya itu pada keponakannya. Kemudian sang wanita itu bersanding dengan laki-laki pujaan hatinya dengan rasa bahagia. Sungguh indahnya pernikahan ini.

Kisah-kisah jomblo yang bahagia hidup di zaman khalifah terdahulu membuktikan betapa khalifah bekerja keras untuk mengurusi rakyatnya, meskipun itu untuk masalah pribadi rakyatnya, yakni dalam hal percintaan. Bahkan seluruh hidupnya digunakan untuk memberikan layanan terbaik dalam pelaksanaan tugasnya sebagai seorang khalifah. Mereka menganggap semua pengorbanan atau usahanya ini sebagai pengabdian pada Allah SWT. Mereka sadar bahwa kepemimpinan ialah amanah yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Selain itu, mereka juga menyadari bahwa manusia yang terbaik adalah manusia yang dapat bermanfaat bagi banyak orang.
Powered by Blogger.