Tahlilan dan Yasinan Adalah Sunnah Bukan Bid’ah

Suatu surat menjelaskan perintah Allah kepada umat manusia agar mengikuti apa yang sudah diturunkan oleh Allah. Kemudian ada salah satu kaum yang menolak untuk mengikutinya. Mereka mengatakan jika mereka hanya akan mengikuti nenek moyang terdahulu. Allah pun menjawabnya bahwa sebenarnya nenek moyang mereka tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah.



Sekarang ini sudah sangat sulit menemukan masyarakat yang masih melakukan tahlilan dan yasinan. Terlebih di zaman yang sudah maju ini. Kita dapat menemukan fenomena itu di daerah pedesaan atau pedalaman. Masyarakat desa biasanya masih memegang teguh kegiatan turun temurun.

Surat lain mengungkapkan jika mereka yang mengikuti nenek moyang hanyalah mengikuti dugaan-dugaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Inilah hukum Yasinan menurut Islam.

Kemudian Allah berfirman kepada umat manusia untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan diikuti oleh Rasul. Kemudian manusia itu menjawab jika mengikuti nenek moyang sudah cukup bagi mereka. Lalu Allah bertanya apakah manusia itu akan tetap mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek moyang meskipun nenek moyangnya tidak mengetahui apa pun.

Berdasarkan beberapa dalil ini membuktikan bahwa Allah adalah Maha Tahu. Seperti yang ada di masyarakat Indonesia, sampai sekarang beberapa di antara kita masih melakukan kegiatan yang diturunkan oleh nenek moyang. Di antara kita yang tidak dapat membedakan mana yang bersumber dari hadits atau kegiatan turun temurun. Salah satunya adalah tahlilan dan yasinan. Biasanya kedua kegiatan ini berupa doa yang diperuntukkan bagi roh atau manusia yang sudah meninggal.

Setelah meninggalnya manusia, maka akan diadakan tahlilan atau yasinan di rumahnya setelah satu minggu, 40 hari, 100 hari dan selanjutnya. Pada kegiatan itu, kita akan berdoa dengan surah al-Fatihah dan Yasin bersama-sama.

Seiring berjalannya waktu, manusia kini semakin berkembang dan ada beberapa di antara mereka yang mengatakan jika tahlilan dan yasinan adalah kegiatan bid’ah yang tidak boleh dilakukan. Mereka menganggap bahwa kegiatan itu hanyalah turunan dari nenek moyang yang menyimpang dari ajaran Islam.

Berdasarkan dalil yang ada, diketahui bahwa pengaruh adat istiadat dari nenek moyang memanglah mempengaruhi kebudayaan manusia. Tapi sebagai manusia yang berakal kita harus bisa membedakan mana yang termasuk bid’ah dan mana yang termasuk amalan. kita juga harus memperhatikan tata cara Yasinan dan Tahlilan.

Jika kita lihat mengenai tahlinan dan yasinan, maka keduanya mengandung doa-doa yang memang ada di dalam Al-Qur’an. Bukankah membaca ayat suci Al-Qur’an merupakan amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah?

Apabila kita mengikuti tahlilan dan yasinan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal maka itu adalah amalan yang baik. Meskipun ada salah satu agama yang mengatakan jika bacaan Yasinan dan Tahlilan adalah suatu bid’ah karena beberapa hal, tapi menurut Islam bukan seperti itu.

Islam memandang positif kegiatan ini selagi masih menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah. Selain itu, kita harus bisa memilah dalil mana yang shahih sehingga bisa kita amalkan sesuai ajaran Allah.

Sebagai seorang muslim, kita tidak bisa lagi berfokus pada kegiatan turun menurun dari nenek moyang. Kita harus mennelitinya terlebih dahulu apakah kegiatan itu bid’ah atau memang merupakan ajaran Islam sehingga diperbolehkan oleh agama. 

No comments:

Powered by Blogger.