Renungan: Ketika Mendoakan Seseorang di Sosmed Hanya Copy-Paste

Di zaman ini, sosial media berkembang dengan pesat dan menjadi semacam kebutuhan utama. Mungkin ucapan selamat dan doa sering sekali kita jumpai melalui media sosial. Ucapan selamat dan doa terkadang menggunakan copy-paste yang memang mudah dan cepat.

Namun perlu kita perhatikan, untuk doa-doa Islami hendaknya jangan hanya sekedar copy-paste saja. sebaiknya benar-benar niatnya tulus dan ikhlas dalam mendoakan. Bukan sekedar formalitas atau meramaikan suasana sosmed saja.

Memang benar bahwa “kedudukan tulisan sebagaimana ucapan”, sebagaimana Kaidah ulama
 
ﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﺗﻨﺰﻝ ﻣﻨﺰﻟﺔ ﺍﻟﻘﻮﻝ.
 
Kedudukan tulisan sama dengan ucapan

Sehingga doa dengan tulisan yang copy-paste insyaAllah bisa mewakili. Bila sebelumnya niatnya hanya formalitas dan sekedar copy-paste dengan cepat, ada baiknya juga kalau doa tersebut kita ucapkan, sambil mengangkat tangan berdoa serta melakukan hal-hal yang bisa lebih memustajabkan doa, jika memang ingin berdoa. Artinya tentu lebih baik lagi kita berdoa lagi dengan ucapan.

Sekali lagi ini bukan berarti tidak boleh berdoa dengan tulisan copy-paste, tetapi kadang copy-paste bisa jadi sekedar formalitas saja sedangkan hati tidak berniat mendoakan atau kurang ikhlas.

Tidak Berdoa Dengan “mbatin” Dalam Hati Saja

Karena yang namanya berdoa dan dzikir harus diucapkan dan paling minimal bibir bergerak dengan suara yang mungkin hanya kita saja yang mendengarnya. Jika “mbatin'’ dalam hati saja, maka ini tidak terhitung berdoa tetapi bisa mendapat pahala karena ketergantungan hati kepada Allah.

Berdoa dan berdzikir harus menggerakkan bibir dan lisan. Allah Ta’ala berfirman,
 
ﻟَﺎ ﺗُﺤَﺮِّﻙْ ﺑِﻪِ ﻟِﺴَﺎﻧَﻚَ ﻟِﺘَﻌْﺠَﻞَ ﺑِﻪِ
 
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (berdzikir/ membaca Al Qur’an)karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.” (AL-Qiyamah: 16)
Ibnu Rusyd menjelasakan,
 
ﻋﻦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻪ ﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻻ ﻳُﺴْﻤِﻊُ ﺃﺣﺪﺍً ﻭﻻ ﻧﻔﺴَﻪ ، ﻭﻻ ﻳﺤﺮﻙ ﺑﻪ ﻟﺴﺎﻧﺎً . ﻓﻘﺎﻝ : ” ﻟﻴﺴﺖ ﻫﺬﻩ ﻗﺮﺍﺀﺓ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﺎ ﺣﺮﻙ ﻟﻪ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ.
 
Imam Malik rahimahullah ditanya mengenai orang yang membaca dalam shalat (termasuk berdzikir), suaranya tidak didengar oleh seorangpun dan tidak juga dirinya, ia tidakmenggerakkan lisannya, maka Imam Malik berkata,

“Ini bukan termasuk membaca (berdzikir), berdzikir itu dengan menggerakkan lisan

Al-Kasani rahimahullah berkata,
 
ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻻ ﺗﻜﻮﻥ ﺇﻻ ﺑﺘﺤﺮﻳﻚ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﺑﺎﻟﺤﺮﻭﻑ، ﺃﻻ ﺗﺮﻯ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻙ ﻟﺴﺎﻧﻪ ﺑﺎﻟﺤﺮﻭﻑ ﻻ ﺗﺠﻮﺯ ﺻﻼﺗﻪ
 
Membaca (berdzikir) harus dengan menggerakkan lisan (mengucapkan) huruf-huruf. Jika engkau melihat seseorang shalat, ia mampu membaca akan tetapi ia tidak menggerakkan lisannya (mengucapkan) huruf-huruf, maka tidak sah shalatnya.”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
 
ﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺗﺤﺮﻳﻚ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ، ﻭﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺻﻮﺕ، ﻭﺇﻻ ﻣﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﻗﺎﺭﺉ، ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻘﻂ ﻣﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﻗﺎﺭﺉ، ﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺷﻲﺀ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﻤﻰ ﺫﺍﻛﺮﺍً، ﻭﻳﺴﻤﻰ ﻗﺎﺭﺋﺎً، ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠﺴﺎﻥ، ﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﻛﻮﻧﻪ ﻳﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﻪ، ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺑﻪ ﺻﻤﻢ، ﻓﻬﻮ ﻣﻌﺬﻭﺭ،
 
Berdzikir itu harus menggerakan lisan dan harus bersuara, minimal didengar oleh diri sendiri. Orang yang membaca di dalam hati (dalam bahasa arab) tidak dikatakan Qaari. Orang yang membaca tidak dapat dikatakan sedang berdzikir atau sedang membaca Al Quran kecuali dengan lisan. Minimal didengar dirinya sendiri. Kecuali jika ia bisu, maka ini ditoleransi

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
 
” ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻻﺑﺪ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻠﺴﺎﻥ، ﻓﺈﺫﺍ ﻗﺮﺃ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﺠﺰﺋﻪ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺃﻳﻀﺎً ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ، ﻻ ﺗﺠﺰﺉ ﺑﺎﻟﻘﻠ، ﺑﻞ ﻻﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﺤﺮﻙ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺑﻬﺎ ﻟﺴﺎﻧﻪ ﻭﺷﻔﺘﻴﻪ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﺃﻗﻮﺍﻝ، ﻭﻻ ﺗﺘﺤﻘﻖ ﺇﻻ ﺑﺘﺤﺮﻳﻚ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﻭﺍﻟﺸﻔﺘﻴﻦ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ.
 
Qira’ah itu harus dengan lisan. Jika seseorang membaca bacaan-bacaan shalat dengan hati saja, ini tidak dibolehkan. Demikian juga bacaan-bacaan yang lain, tidak boleh hanya dengan hati. Namun harus menggerakan lisan dan bibirnya, barulah disebut sebagai aqwal (perkataan). Dan tidak dapat dikatakan aqwal, jika tanpa lisan dan bergeraknya bibir

Maksud Dzikir Dengan Hati

Yang dimaksud dengan “dzikir hati”. Maksudnya adalah dzikir dengan mengingat, merenungi dan memikirkan kebesaran Allah. Bukan dzikir “mbatin”, yaitu doa dalam hati saja.

Para ulama membagi dzikir menjadi dua: dzikir lisan dan dzikir hati (ada yang menambahkan dengan dzikir anggota badan).

syaikhul Islam Ibnu Taiimiyyah rahimahullah berkata,
 
ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺃَﺭْﺑَﻊُ ﻃَﺒَﻘَﺎﺕٍ : ﺇﺣْﺪَﺍﻫَﺎ : ﺍﻟﺬِّﻛْﺮُ ﺑِﺎﻟْﻘَﻠْﺐِ ﻭَﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﺭُ ﺑِﻪِ
 
Manusia dalam hal dzikir ada 4 tingkatan, yang pertama dzikir dengan hati dan lisan, maka ini diperintahkan.”

Maksud dzikir hati dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,
 
ﻭﺻﻔﺔ ﺍﻟﺬِّﻛﺮ ﺑﺎﻟﻘﻠﺐ: ﺍﻟﺘﻔﻜﺮ ﻓﻲ ﺁﻳﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻣﺤﺒﺘﻪ، ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﻪ، ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﺍﻟﺨﻮﻑ ﻣﻨﻪ، ﻭﺍﻟﺘﻮﻛﻞ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻣﺎ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ.
 
Tata cara berdzikir dengan hati (dzikir hati) adalah merenungi ayat-ayat Allah, mencintai-Nya, mengagungkan-Nya, dan kembali kepada-Nya, takut, tawakkal dan lain-lainya berupa amalan hati.”

Sumber: muslimafiyah.com

Previous
Next Post »
Thanks for your comment